Setiap hari aktivitas saya, berhubungan erat dengan tranportasi yang sebagian besar berada di jalanan kota. Jalanan yang tidak pernah sepi dari kemacetan karena saking banyaknya kendaraan-kendaraan yang tumpah ruah setiap harinya, terutama kendaraan roda empat yang menurut saya sangat mendominasi dan membuat jalanan semakin macet. Cukup beralasan, karena yang diinginkan masyarakat adalah tranportasi yang murah, efisien, namun belum tentu efektif. Maka, kendaraan bermotor adalah salah satu solusi transportasi yang paling tepat. Alasan lainnya karena memang tranportasi umum yang ditawarkan tidak cukup memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat pada umumnya. Sering terjadinya tindakan-tindakan criminal seperti penjambretan, pencopetan bahkan pemerkosaan yang terjadi pada salah satu alat tranportasi umum cukup memperkuat alasan kenapa masyarakat lebih memilih kendaraan yang lebih bisa meminimalkan resiko seperti halnya kendaraan roda dua atau sepeda motor.
Saya termasuk salah satu masyarakat umum yang menjadikan sepeda motor sebagai alat tranportasi utama dalam menjalankan aktivitas keseharian saya. Bagi seorang mahasiswa seperti saya, masalah efisiensi waktu menjadi alasan utama kenapa saya memilih menggunakan sepeda motor untuk berangkat menjalankan aktivitas saya yang sebagian besar saya gunakan untuk pulang pergi ke kampus.
Saya tahu dan sudah berpengalaman ketika dulu saya menggunakan angkot untuk pulang pergi ke kampus yang jaraknya cukup lumayan jauh juga. Dan dari pengalaman tersebut, saya rasa angkot bukanlah alat transportasi yang tepat bagi seseorang yang selalu berharap tepat waktu menjalani aktifitas. Saya berpikir, jika perkuliahan di mulai pukul 7 pagi, maka supaya tidak kesiangan saya harus berangkat dari rumah pukul 6 pagi. Selain karena masih pagi, di saat jalanan kota belum begitu ramai dengan kendaraan-kendaraan tapi ternyata tetap saja tidak bisa berharap cepat-cepat sampai ke tempat tujuan (kampus). Acara rutin angkot menunggu penumpang sampai angkot menjadi penuh,bahkan jika sudah penuh pun masih dijejal-jejal penumpang menjadi hal yang menyebalkan bagi saya karena saya menjadi tidak punya pilihan lain, selain meunggu. Jadi tetap saja, saya tidak bisa berharap untuk sampai di kampus secepatnya, karena hal-hal yang demikian. Apalagi jika jalanan sudah mulai di landa kemacetan, waktunya bisa molor hingga dua kali lipat. Dan itu sangat mengkhawatirkan!
Saat ini, ketika saya sudah beralih ke alat tranportasi kendaraan roda dua atau sepeda motor, hal-hal yang demikian di atas sudah bisa di minimalisir. Waktu yang biasanya saya tempuh sekitar setengah jam atau lebih jika macet ketika saya naik angkot, kini bisa saya kurangi hingga 10-15 menit. Jadi perjalanan ke kampus bisa saya tempuh kurang lebih dalam waktu 20 menit. Kecuali jika memang jalanan sedang di landa kemacetan yang cukup padat, maka waktunya bisa sedikit bertambah, tapi tidak separah ketika saya naik tranportasi umum atau angkot. Paling tidak saya bisa sedikit tepat waktu masuk kuliah, dan tidak pernah lagi kesiangan seperti yang pernah saya lakukan zaman dahulu kala. J
Tapi setelah sekian lama saya menggunakan alat tranportasi roda dua yang cukup bisa diandalkan dalam hal ketepatan waktu, ternyata saya pun harus bisa menerima resiko lainnya seperti halnya dalam tranportasi lainnya. Kalau naik angkot kan resikonya “ngetem”, pencopet, penjambret, berdesak-desakan, panas dan sumpek. Nah.., kalau naik motor, jujur saya katakan sangat menguras energy. Karena memang kita sendiri yang mengendarai, selain karena posisi kita lebih terbuka untuk di terpa panas, polusi dari asap-asap kendaraan lainnya dan juga harus focus jika sedang berkendara sehingga tidak hanya otot yang bekerja, tetapi juga otak. Kesengsaraan yang sangat mendalam,, selalu saya rasakan ketika saya terjebak dalam kemacetan total yang tidak kenal ampun. Tubuh yang sudah lelah beraktivitas seharian dipaksa harus berkendara di tengah-tengah hawa panas mesin kendaraan-kendaraan yang mungkin sudah mulai lelah juga. Membuat keringat bercucuran di sekujur tubuh ditambah debu dan asap kendaraan yang sudah masuk dalam tubuh lewat pori-pori kulit, mata, hidung bahkan mulut. Rasanya seperti di pangggang dalam sebuah open yang besar yang membuat tubuh saya menjadi kering dan gersang. Sehingga mungkin sedikit banyak akan berpengaruh pada kesehatan tubuh kita. Asap polusi itu dipenuhi dengan racun/toksin yang berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh kita, maka hal-hal yang harus kita perhatikan adalah bagaimana berkendara dengan mencegah atau meminimalisir kemungkinan-kemungkinan di atas, seperti memakai masker ketika berkendara dsb. Tapi paling tidak itulah resiko terparah yang bisa di alami pengendara sepeda motor di jalanan.
Jadi, menurut saya memang semuanya juga ada resiko-resiko yang harus ditanggung. Tinggal kita saja yang memilih resiko mana yang sanggup kita hadapi. Kalau kita memilih berkendara menggunakan transportasi umum, maka kita harus pintar-pintar mengaturnya supaya bisa sesuai dengan keinginan kita, terutama masalah efisiensi waktu dan kita juga harus waspada dengan resiko-resiko lainnya seperti bagaimana caranya menghindarkan diri tindakan-tindakan criminal yang sering terjadi. Sedangkan, jika memilih berkendara dengan sepeda motor atau kendaraan roda dua, maka efisiensi waktu dan kemurahan transportasi mungkin akan kita dapatkan, tapi kita harus siap dengan segala resiko lainnya, seperti factor fisik dan kesehatan kita. Salah satu solusi untuk meinimalkan resiko tersebut adalah dengan memakai perlengkapan berkendara yang baik yang bisa mengurangi dampak-dampak yang bisa merusak kesehatan tubuh kita.
By Saepuloh














0 komentar